• Urutan kendali untuk sistem HVAC

Default Alternative Text

Tujuan pembelajaran

  1. 1. Mempelajari cara membuat urutan operasi yang baik.
  2. 2. Pahami pentingnya urutan operasi karena itu berkaitan dengan desain, spesifikasi, dan konstruksi.
  3. 3. Pahami bagaimana urutan operasi berguna selama masa aktif hingga operasi jangka panjang gedung.

Urutan operasi merupakan salah satu aspek desain paling penting dalam sistem HVAC. Tanpa urutan yang baik, sistem tidak akan beroperasi dengan baik—bahkan tidak berfungsi sama sekali. Ketika dikaji secara metodis, prosesnya bisa dibagi menjadi segmen-segmen yang lebih kecil. Kita akan melihat langkah yang dibutuhkan untuk membuat urutan operasi yang baik menggunakan sistem tata udara variable air volume (VAV) satu zona yang digunakan pada ruang konvensi. Langkah-langkah ini bisa diterapkan untuk peralatan mana pun.

Beberapa informasi harus dikumpulkan sebelum membuat urutan operasi. Proses pengumpulan data dan bertukar gagasan (brainstorming) ini bisa dibagi menjadi langkah-langkah penting berikut ini:

Langkah 1: Buat diagram alir sistem. Membuat diagram alir memungkinkan perancang untuk mengidentifikasi komponen sistem. Ini adalah komponen yang harus dikendalikan untuk meraih hasil operasi yang diinginkan. Urutannya bisa dibuat dengan perincian untuk setiap komponen tata udara utama. Kipas bisa diatur pada satu bagian, suhu di bagian lain, dan perangkat-perangkat keselamatan serta aksesoris diperinci secara terpisah.

Gambar 1: Diagram skematik menunjukkan komponen pengendali sistem tata udara (air handling unit/AHU). Sumber: JBA Consulting Engineers


Gambar 1 memperlihatkan komponen utama sistem tata udara yang kami gunakan sebagai contoh. Unit tersebut memiliki exhaust fan, airflow measuring station luar dan luar, mixing box, pre-filter, final filter, coil air panas, coil air dingin, dan kipas suplai. Diagram alir juga harus menunjukkan jalur aliran udara dan hubungan pipa. Kecepatan aliran udara dan air tidak perlu dicantumkan karena informasi tersebut akan dimasukkan ke dalam jadwal peralatan. Anda bisa memasukkan kecepatan aliran udara dalam diagram, atau memilih pendekatan yang lebih umum. Jika Anda memilih pendekatan yang lebih umum, diagram tersebut bisa digunakan untuk unit-unit dengan konfigurasi yang sama. Masukkan semua masukan dan variabel yang harus dikendalikan. Komponen yang bukan masukan atau variabel terkendali tidak perlu dicantumkan agar diagram lebih sederhana dan mudah dibaca.

Langkah 2: Kelompokkan fungsi peralatan. Salah satu pertanyaan yang harus dijawab sebelum melanjutkan adalah: "Apa fungsi sistemnya?" Seringkali, fungsinya adalah menghangatkan atau menyejukkan orang di dalamnya. Kadang, fungsinya adalah menjaga suhu udara yang sudah ditentukan untuk sebuah proses (misalnya, pusat data). Mungkin sistem harus mempertahankan pressure relationship untuk ruang-ruang tertentu. Perancang harus mengetahui peralatan-peralatan yang terpengaruh oleh urutan tersebut. Makeup air unit, misalnya, harus terhubung dengan exhaust fan. Jangan lupa bahwa sebuah sistem bisa memiliki beberapa fungsi. Sistem tata udara mungkin dirancang untuk menyejukkan ruangan pada situasi normal sekaligus sebagai sistem pengendali asap ketika terjadi kebakaran.

Langkah 3: Ketahui masukan dan keluaran yang dibutuhkan. Di bagian atas sudah dijelaskan bahwa diagram alir harus mencantumkan masukan untuk variabel terkendali. Masukan adalah bacaan yang masuk ke sistem pengelolaan gedung (building management system/BMS). Ini termasuk sensor ruangan, sensor temperatur udara, sensor tekanan statis dan diferensial, dan lain sebagainya. Ketika menyusun daftar perangkat masukan ini, perancang harus mengetahui masukan mana yang sudah tersedia dalam sistem pengendali. Apakah perangkat yang dibutuhkan merupakan bagian dari peralatan, atau sudah ditentukan untuk hal lain? Perangkat tambahan harus diinformasikan dalam dokumen konstruksi. Keluaran juga harus dipertimbangkan dalam persiapan untuk mengembangkan daftar lengkap. Keluaran adalah sinyal yang bersumber dari BMS ke variabel terkendali (controlled variable).

Langkah 4: Cantumkan setiap kode fungsi yang dibutuhkan sistem. Kode energi (seperti ASHRAE Standard 90.1) semakin ketat dan menuntut sistem yang lebih efisien lagi. Memahami kebutuhan ini membantu Anda untuk memastikan sistemnya memenuhi energy conservation code yang berlaku. Setback requirement, peredam isolasi, demand controlled ventilation (DCV), economizer, reheat limitation, deadband, dan supply air temperature reset merupakan contoh kebutuhan kode energi udara yang, ketika dibutuhkan, harus dimasukkan dalam urutan. Mengenali kebutuhan dan pengecualian ini merupakan hal penting untuk proyek Anda.

Gambar 2: Deadband adalah titik diferensial untuk mencegah pemanasan dan pendinginan secara bersamaan. Kode energi dan standar efisiensi memperinci titik batasan tersebut. Sumber: JBA Consulting Engineers


Kebutuhan kode gedung, mekanis, dan api juga harus ditinjau pada bagian ini. Misalnya, kode akan menonaktifkan alat-alat ketika mendeteksi asap. Kebutuhan kendali lain mungkin akan aktif jika peralatan tersebut memiliki fungsi pengendalian asap.

Peralatan atau fitur HVAC yang dibutuhkan oleh kode harus diidentifikasi di awal proses desain. Inilah kenapa urutan kendali harus dibuat di awal proses desain. Penyusunan urutan kendali akan menghasilkan koordinasi penuh dan komprehensif.

Langkah 5: Pastikan kebutuhan operasional dan harapan pemilik. Setelah mengetahui fungsi kode minimum yang dibutuhkan sebuah unit, perancang harus mengonfirmasi apakah si pemilik membutuhkan fungsi khusus dan memahami bagaimana peralatan tersebut akan digunakan. Kebutuhan ini dapat dilihat di owner’s project requirements (OPR) atau proposal yang menjelaskan cakupa proyek. Jika tidak ada OPR, perancang harus tetap bertanya ke pemilik untuk memverifikasi tujuan sistem tersebut. Tim harus mendiskusikan fitur sistem mana yang akan bentrok dengan operasional dan kebutuhan kode. Periksa sistem untuk melihat apakah ada komponen tambahan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pemilik.

Gambar 3: Grafik building management system (BMS) ini menunjukkan berbagai poin. Grafik tersebut memberikan gambaran ringkas dengan tampilan yang praktis dan sederhana. Sumber: ABS Systems Inc.


Urutan operasi harus dirancang sesuai dengan bagaimana gedung tersebut akan dioperasikan, dan berdasarkan pengalaman staf pemeliharaan. Urutan yang dibuat untuk resor kasino besar dengan staf penuh waktu yang berpengalaman bisa lebih rumit dibandingkan urutan yang dikembangkan untuk gedung kecil yang tidak memiliki staf pemeliharaan. Urutannya harus sesederhana mungkin tetapi tetap memenuhi kebutuhan kinerja. Urutan kendali yang rumit akan membuat operator yang paling berpengalaman pun kewalahan. Ketidakpahaman operator atau minimnya kebutuhan untuk melakukan override sering berakibat pada operasional gedung yang tidak sesuai dengan tujuan perancang gedung.

Setelah informasi ini dikumpulkan, perancang bisa mulai menciptakan urutan operasi. Ini menjadi dasar pengembangan urutan kendali.

Tabel 1: Daftar poin untuk contoh sistem tata udara (air handling unit/AHU). Semua masukan dan keluaran harus dicantumkan dan dikelompokkan. Sumber: JBA Consulting Engineers

Langkah 6: Buat daftar poin. Informasi yang dikumpulkan di tahap-tahap sebelumnya dapat menghasilkan daftar poin. Daftar tersebut memperlihatkan semua masukan dan keluaran yang dikendalikan dan dipantau oleh BMS. Matriks yang serupa dengan Tabel 1 seringnya merupakan metode terbaik untuk mengidentifikasi poin-poin tersebut. Matriks harus mengidentifikasi semua masukan dan keluaran untuk sistem. Poin-poin bisa dikelompokkan menjadi digital dan analog. Masukan dan keluaran digital merupakan format mati atau nyala (0 atau 1) yang sederhana. Masukan dan keluaran analog mewakili nilai dalam kisaran yang berhubungan dengan perubahan tegangan (misalnya 2-10 Vdc) atau tegangan aliran listrik/amper (4-20 mA), atau di era kendali pneumatik, perubahan tekanan udara. Alarm saringan yang kotor dari saklar tekanan diferensial merupakan salah satu contoh masukan digital ke pengendali. Posisi katup air dingin (chilled water valve position) adalah keluaran analog karena mengatur posisi terbuka (open position) dari 0-100%. Sistemnya harus dirancang agar dapat diekspansi dan dapat menangani setidaknya 125% dari jumlah poin yang ada. Harus dibuat juga kelonggaran untuk poin virtual. Ini adalah poin yang dihitung atau melewati sistem pengendali, bertolak belakang dengan poin fisik yang permanen.

Mungkin Anda harus mengulang langkah tiga ketika daftar poin semakin panjang. Perancang mungkin akan menyadari bahwa dia tidak memiliki semua perangkat masukan dan keluaran yang dibutuhkan untuk mendapatkan kendali sistem yang baik. Akan lebih baik untuk mengidentifikasi perubahan ini dalam proses desain untuk menghindari adanya perubahan yang memakan biaya di lapangan.

Kemampuan pemantauan dan alarm juga harus ditinjau di bagian ini. Poin ini memberikan informasi tambahan ke operator, memungkinkannya untuk memantau kinerja sistem. Ini bisa menjadi informasi berharga, tetapi jumlah poin yang berlebihan bisa merepotkan, mahal, dan tidak memberikan manfaat nyata bagi operator. Kendali harus tetap sesederhana mungkin. Operator harus memiliki semua informasi dalam jangkauannya, tetapi tambahan informasi bisa menjadi "gangguan" dan mengalihkan fokus operator dari poin-poin yang penting. Anda bisa memantau dan melihat kecenderungan semua nilai dari dalam sistem. Perancang harus bertanya apakah sebuah poin benar-benar dibutuhkan oleh sistem.

Kemampuan penyimpanan sistem juga harus diperjelas. Pastikan berapa lama data harus dipertahankan (misalnya 30, 60, atau 90 hari). Frekuensi tren juga harus dievaluasi. Apakah merekam data setiap 15 detik atau 15 menit benar-benar dibutuhkan? Memantau kecenderungan ratusan poin setiap beberapa detik bisa menyebabkan masalah kinerja.

Pertimbangkan langkah terbaik untuk setiap daerah operasional. Di beberapa daerah, spesifikasi kendali didasarkan pada kinerja dimana kontraktor kendali suhu akan bertanggung jawab untuk menyediakan semua komponen dan poin yang dibutuhkan untuk menyusun urutan operasi. Daerah lain atau proyek tertentu mungkiin mengharuskan desainer/perancang untuk merinci detail dan poin untuk semua komponen sistem yang harus disediakan oleh kontraktor.

Langkah 7: Identifikasi titik pengaturan (setpoint). Titik pengaturan adalah nilai yang dipertahankan sistem dalam waktu operasional. Suhu ruang merupakan salah satu contoh umumnya. Sensor ruang atau termostat (alat pengatur suhu) merupakan perangkat masukan yang mengukur suhu ruangan. Sistem kendali mengevaluasi kondisi ini berdasarkan nilai titik pengaturan. Titik pengaturan tidak terbatas pada temperatur. Sensor duct static pressure yang mengendalikan kecepatan kipas juga memiliki titik pengaturan. Seperti sebelumnya, titik pengaturan untuk sensor karbondioksida (CO2) yang berfungsi sebagai masukan untuk strategi kendali ventilasi juga harus ditentukan.

Langkah 8: Periksa seluruh langkah dan respons fungsional. Permulaan dan respons fungsional merupakan aspek utama dari urutan operasio. Itulah mungkin hal yang pertama kali dipikirkan orang ketika mendengar istilah "urutan operasi." Cara terbaik untuk menggarap ini adalah melihatnya sebagai daftar bernomor.

Sebagai contoh, mari lihat kendali temperatur. Sensor temperatur ruangan merupakan perangkat masukan. Perangkat ini mengukur temperatur ruang dan mengirim hasilnya ke otak sistem. Dalam peralatan mandiri (peralatan yang dapat berfungsi tanpa alat pendukung/stand-alone), ini kemungkinan pengendali peralatan dengan urutan kendali yang sudah ditentukan sebelumnya. Dalam sistem yang lebih besar dan lebih kompleks, hasil atau nilai tersebut dikirim ke BMS. BMS berperan sebagai otak dan mengevaluasi apakah nilai yang diukur berada dalam parameter operasional—dalam titik pengaturan. Asumsikan sistemnya beroperasi dalam mode dingin dengan katup kontrol air dingin terbuka sebagian dan katup gulungan panas tertutup sepenuhnya. Jika nilainya di atas titik pengaturan, berarti temperatur ruangan berada di atas batas yang ditentukan. Katup kontrol air dingin harus membuka untuk mendinginkan dan menurunkan temperatur ruangan.

Urutan operasi harus mendaftarkan evaluasi ini secara singkat dan bagaimana sistem harus meresponsnya. Bahasa yang dianjurkan untuk contoh terakhir mungkin serupa dengan ini:

Gambar 4: Sistem tata udara yang dikemas berulang-ulang (redundant packaged) terhubung ke pasukan umum dan saluran balik (return duct). Urutannya menetapkan posisi peredam kendali (control damper) dan bagaimana unitnya berputar. Sumber: JBA Consulting Engineers


Dalam mode dingin, titik pengaturannya adalah 75 F ± 1 F (dapat disesuaikan). Jika temperatur ruangan berada di atas titik pengaturan dingin, pertama-tama sistem akan mengatur katup air dingin dari 0% ke 100% terbuka berdasarkan proportional-integral-derivative (PID) dan kipas suplai aliran udara akan tetap berada di posisi minimumnya. Kecepatan kipas suplai berubah dari minimum ke 100% jika posisi katup kendali terbuka lebih dari 70% (dapat disesuaikan). Jika temperatur ruang jatuuh di bawah titik pengaturan dingin, sistem akan menutup katup kendali air dingin berdasarkan PID. Jika katup kendali lebih sedikit atau 50% (dapat disesuaikan) terbuka, kipas suplai akan kembali ke kecepatan minimum.

Perancang harus mengerjakan semua pengaturan sistem secara sistematis. Pertimbangkan semua mode yang harus dijalankan sistem dan komponen mana yang harus berjalan dengan berbeda pada mode-mode tersebut. Pikirkan supply fan dan exhaust dan dalam sistem Anda. Contoh kami berasumsi bahwa sistem tata udara exhaust fan juga bersungsi sebagai exhaust fan untuk asap. Kipas dan peredam kontrol akan beroperasi dengan berbeda pada mode pengendalian asap dibandingkan mode normal. Urutan operasi harus mengatur secara spesifik semua kebutuhan untuk mode-mode tersebut.


Tabel 2: Matriks bisa digunakan untuk menguraikan mode operasi ini pada tahap desain. Perancang bisa memanfaatkan latihan brainstorming ini untuk membantu menyusun urutan kendali. Sumber: JBA Consulting Engineers

Jangan lupa bahwa mode operasi normal mungkin memilikinya di dalam beberapa modenya. Dalam contoh, kami memiliki operasi economizer dan resirkulasi. Matriks seperti yang diperlihatkan dalam Tabel 2 merupakan cara mudah untuk mengidentifikasi parameter yang dibutuhkan untuk berbagai mode operasi. Walaupun tidak perlu dicantumkan dalam dokumen konstruksi, matriks ini memberikan ringkasan singkat untuk perancang yang dapat membantunya mengembangkan urutan operasi. Masukan dan keluaran analog/digital harus, dalam beberapa bentuk, dicantumkan dengan jelas dalam dokumen konstruksi dengan urutan kendali terkait.

Langkah 9: Kenali skenario kesalahan: Suatu saat, komponen sistem akan gagal/rusak. Produk berkualitas akan mengurangi frekuensi kegagalan ini, tetapi hal ini tetap tak terhindarkan. Jika perancang merencanakan kerusakan ini dalam urutan operasi, dia mungkin dapat mengurangi dampaknya terhadap operasi ketika kerusakan tersebut benar-benar terjadi. Tetapi, jangan sampai terlalu terperinci. Kebutuhan ketahanan untuk gedung perkantoran akan sangat berbeda dengan pusat data. Pengaturan keselamatan hidup juga harus dipertimbangkan. 

Pertimbangan kerusakan harus memperhatikan perangkat masukan dan komponen sistem terkendali. Kerusakan saluran suplai sensor tekanan statik dapat menyebabkan kekeliruan pengendalian kecepatan variable frequency drive (VFD) untuk kipas suplai. Jika nilai yang diukur pada sensor ini jauh berbeda dari yang sudah ditentukan, mungkin sistem menerima pengukuran yang keliru. Urutan operasi bisa memerintahkan untuk mengabaikan bacaan ini jika hasilnya beberapa persin diluar nilai yang diperkirakan. Beberapa perangkat masukan juga memiliki fungsi sama di dalam sensornya.

Gambar 5: Beberapa variable frequency drives (VFDs) digunakan dengan sekelompok kipas exhaust. Urutan operasi mengatur kecepatan kipas secara bersamaan untuk mempertahankan tekanan diferensial di dalam ruang. Sumber: JBA Consulting Engineers


Pertimbangkan bacaan sensor tekanan rendah statis. Urutan yang mengidentifikasi kerusakan komponen ini bisa mengatur ulang kipas suplai ke kecepatan tetap yang menjaga sistem untuk tetap berjalan dan menghasilkan setidaknya sebagian kapasitas hingga tim pemeliharaan dapat memecahkan masalahnya. Sistem yang tidak mengantisipasi kerusakan ini akan terus mengendalikan sistem dengan pengukuran tekanan statis yang keliru. Sistem tersebut kemungkinan akan meningkatkan kecepatan kipas suplai hingga akhirnya sistem mati akibat tekanan statis tinggi (jika titik pengaturan tekanan statis tinggi sudah dipertimbangkan dalam daftar poin). Situasi ini membutuhkan restart manual dan sistem akan mengalami waktu non-operasional yang lebih panjang. Ini merupakan pertimbangan penting karena berhubungan dengan kondisi lingkungan dan bisa mengancam keselamatan.

Sekarang pertimbangkan kerusakan perangkat terkontrol seperti control valve actuator. Kerusakan perangkat ini akan menyebabkan hilangnya pengendalian temperatur ruangan. Pentingnya posisi darurat (fail-safe position) untuk aktuator ini masih bisa diperdebatkan, tetapi spring return open actuator mungkin dipertimbangkan untuk coil air panas di iklim yang panas. Meskipun sistem tidak lagi memiliki kendali yang akurat, pengaturan kesalahan ini patut diwaspadai dan ruangan akan terlalu dingin sampai sistemnya bisa diperbaiki. Ini mungkin lebih penting untuk peralatan pendingin untuk ruang telekomunikasi, pusat data, dan proses lain dimana hilangnya sistem pendingin dapat berakibat fatal.

Kerusakan motor kipas suplai dalam sistem kipas suplai tunggal tidak memiliki fail-safe position. Namun, sistem yang memiliki beberapa kipas suplai dan motor mungkin bisa merespons skenario ini tanpa penurunan suplai aliran udara. Ini adalah contoh utama bagaimana pengembangan urutan operasi dapat menentukan komponen apa yang digunakan untuk sistem. Dampak kerusakan kipas suplai mungkin tidak diperhatikan di tahap-tahap sebelumnya.

Langkah 10: Tinjau urutannya. Pada titik ini, perancang udah menyelesaikan kerangka urutan operasi. Urutan yang baik bersifat berulang dan seringnya membutuhkan peninjauan ulang. Di bagian sebelumnya, sudah disebutkan bahwa perancang mungkin menulis respons fungsi sistem dan baru menyadari bahwa dia tidak memiliki perangkat masukan dan keluaran yang dibutuhkan. Hal ini akan menyebabkan pembaruan pada diagram alir yang sudah dibuat. Proses pembuatan urutan operasi mungkin juga akan menemukan fitur atau opsi yang belum diperinci. Ini adalah waktu yang tepat untuk menyesuaikan dan menyempurnakan spesifikasi tersebut.

Cara terbaik untuk meninjau urutan operasi adalah menjalankan semua aksi dan respons. Coba rusak sistem dengan membuat skenario yang tidak bisa direspons urutan operasi Anda dengan baik. Tulis ulang urutannya jika dibutuhkan. Penelaahan sejawat (peer review) merupakan cara yang baik untuk memastikan maksud urutannya cukup jelas.

Dalam sistem yang rumit, pertimbangkan bagaimana interaksi peralatan dengan urutan operasi peralatan lainnya. Sistem VAV multizona akan memiliki urutan operasi untuk unit terminal individual dan sistem tata udara sentral. Urutan ini harus diselaraskan untuk memastikan mereka berfungsi dengan harmonis dan menghasilkan operasi yang efisien. Kesuksesan operasi satu peralatan bergantung pada operasi lainnya.

Commissioning

Pengujian fungsi dalam proses commissioning membantu memastikan proyek beroperasi berdasarkan desain yang dimaksud. Pengujian ini berdasarkan urutan operasi si perancang. Jangan mengharapkan peralatan untuk menjalankan fungsi yang tidak dibutuhkan oleh urutan operasi.

Ketidaksesuaian yang muncul dalam tahap commissioning harus ditinjau oleh perancang. Pemutakhiran urutan operasi mungkin dbutuhkan berdasarkan data yang dikumpulkan dalam uji fungsi. Simak lagi contoh sensor tekanan statis di atas. Commissionong adalah waktu yang tepat untuk memeriksa semua fungsi darurat. Tujuannya adalah menjaga sistem untuk tetap beroperasi. Pihak yang berwenang atas commissioning harus menguji operasi fitur ini dan tim harus mengubah titik pengaturan sesuai dengan hasil yang diinginkan.

Commissioning adalah kesempatan terakhir untuk mengevaluasi urutan sebelum menyerahkannya kepada pemilik gedung. Perancang harus terlibat dalam proses ini dan meninjau laporan akhirnya. Urutannya mungkin harus diubah berdasarkan pengamatan dalam proses commisioning. Perubahan di akhir seperti itu mungkin memakan biaya besar dan berdampak besar terhadap jadwal. Oleh karena itu, perancang tidak boleh bergantung pada proses commissioning untuk melihat kelemahan-kelemahan dalam tahap desain.

Operasi

Operator gedung harus sepenuhnya memahami urutan operasi. Ini memastikan tim pemeliharaan fasilitas menjalankan peralatan sesuai dengan tujuan desain. Operator gedung boleh mengambil alih pasokan suhu udara untuk merespons keluhan temperatur ruangan. Dia harus memahami konsekuensi pengambilalihan (override) karena itu berhubungan dengan efisiensi energi. Pahami akar permasalahan dan tuntaskan masalahnya langsung.

Meskipun perancang harusnya mempertimbangkan kebutuhan operasional, tetapi detail spesifiknya mungkin tidak tersedia. Urutannya mungkin tidak perlu disempurnakan karena opersional gedung ini terus-menerus berubah. Urutan operasi harus dilihat sebagai dokumen hidup yang dijaga terus-menerus melalui sistem hidup yang tepercaya. Hal itu memungkinkan transfer ilmu yang halus antara kelompok operasional. Memahami kontrol logika (control logic) untuk peralatan yang sudah ada merupakan hal penting bagi perancang yang menggarap renovasi gedung atau tenant improvement/. Tanpa pengetahuan ini, desain barunya bisa bentrok dengan sistem yang sudah ada.

Urutan yang up-tu-date juga memberikan tolok ukur untuk bagaimana sebuah sistem harus beroperasi. Urutan untuk peralatan yang sudah ada bisa dimodifikasi demi mengoptimalkan efisiensi energi dan menyelaraskannya dengan fungsi gedung yang terus berkembang. Retro-commissioning dan audit energi merupakan cara yang apik untuk menemukan kelemahan urutan kendali untuk peralatan yang sudah ada. Peralatan tersedia yang tidak memiliki urutan operasi merupakan sasaran optimasi energi yang baik.

Sistem HVAC mengonsumsi cukup banyak energi di gedung komersial. Mengembangkan urutan operasi yang baik membantu meminimalkan konsumsi energi. Selain itu, urutan operasi memungkinkan sistem untuk memenuhi kriteria maksud desainnya. Perancang harus menyusun urutan sesuai dengan proyek dan memaksimalkan kesuksesan proyek tersebut.

Meskipun tidak jarang kita melihat urutan operasi dimasukkan dalam buku petunjuk spesifikasi proyek, lokasi terbaik untuk informasi ini adalah gambar konstruksi. Menjaga urutan operasi tetap berdekatan dengan jadwal peralatan, rencana, dan diagram kendali meningkatkan transparansi informasi keseluruhan proyek. Pengaturan ini sangat menguntungkan karena buku petunjuk spesifikasi proyek tidak selalu tersedia di lapangan dan sering terpisah dengan gambar rancangan.

Langkah-langkah yang diuraikan bisa diterapkan ke hampir semua sistem, tanpa memedulikan ukuran atau kompeksitasnya. Hal yang perlu diingat adalah urutan operasi tidak boleh dibuat dalam keadaan tergesa-gesa. Urutan operasi yang efektif dimulai dari proses desain, ketika sistem dikembangkan dan peralatan masih dipilih. Dengan begitu, perancang bisa mengembangkan sistem yang paling efektif.


Jason A. Witterman adalah insinyur mesin mekanik untuk JBA Consulting Engineers. Dia memiliki pengalaman di berbagai sektor pasar, termasuk pusat data, kantor komersial, penerbangan, kesehatan, dan proyek pemerintah. Keahlian utamanya adalah pusat data, keberlanjutan, dan kode energi. Ed Butera adalah ketua dewan direksi JBA Consulting Engineers dan memiliki lebih dari 40 tahun pengalaman. Spesialisasinya adalah pembuatan master plan dan desain sistem yang kompleks untuk perawatan kesehatan, gedung pencakar langit, pabrik utilitas pusat, dan proyek resor perhotelan besar.

CSE_Logo_Color_ID

Didukung oleh ContentStream®