• How can a laboratory be energy-efficient and compliant?

Default Alternative Text
Dibandingkan dengan gedung perkantoran, lab rata-rata menggunakan energi 10 kali lebih banyak per 0,1 meter persegi.

Misi dari laboratorium adalah untuk melaksanakan penelitian, namun seperti bisnis lainnya, efisiensi energi mempengaruhi keuntungan yang akan diraih. Dihadapkan dengan standar ganda dalam mengurangi pemborosan energi dan mematuhi persyaratan dari regulasi yang ketat adalah beban unik dari para manajer lab.

Mengapa efisiensi energi menjadi penting?
Dibandingkan dengan gedung perkantoran, laboratorium rata-rata menggunakan energi 10 kali lebih banyak per 0,1 meter persegi. Agen Proteksi Lingkungan Amerika Serikat memperkirakan bahwa dengan mengurangi penggunaan energi lab sebesar 30% akan mengurangi konsumsi energi nasional sebesar 84 triliun Btus. Penghematan energi tersebut setara dengan menghilangkan 1,3 juta mobil dari jalan tol.

Manajer laboratorium menyadari akan meningkatnya kebutuhan terhadap efisiensi energi, namun kesulitan dalam memulai perubahan, sebagian karena kebanyakan lab tidak memiliki metode baku dalam mengurangi penggunaan dan biaya energi.

Pendekatan siklus hidup manajemen energi yang sukses
Ketika pekerjaan lab melibatkan bahan biologi dengan potensi bahaya atau penelitian yang melibatkan hewan, efisiensi energi adalah tantangan yang umum ditemui. Dengan meluncurkan program manajemen energi, lab dapat meningkatkan penghematan energi tanpa mengorbankan standar ketaatan atau standar keselamatan.

  1. 1. Melakukan audit dan pengukuran penggunaan energi: Awalnya data dapat dikumpulkan dengan memantau dan mengukur penggunaan energi di semua jenis utilitas: gas, listrik, uap, air panas dan dingin, serta udara bertekanan. Lalu, terapkan strategi pengukuran untuk melacak penggunaan energi dan mengumpulkan informasi operasional. Data akan memutuskan unsur "kapan, di mana dan bagaimana" dari jejak energi lab.
  2. 2. Memperbaiki hal yang mendasar: Data yang terkumpul dan pemantauan yang berjalan memungkinkan lab untuk menerapkan perbaikan hemat biaya dengan hasil maksimal untuk menghentikan pemborosan energi di pos-pos yang mencolok. Sebagai contoh, melakukan upgrade ke pencahayaan rendah energi, transformer low-loss dan motor dengan efisiensi tinggi adalah cara cepat untuk mengurangi penggunaan energi. Di luar faktor mekanis, perilaku manusia memegang peranan. Melibatkan staf untuk bekerjasama - melalui pelatihan, prosedur atau insentif - akan meningkatkan efektivitas dari program manajemen energi.
  1. 3. Melakukan optimasi melalui otomasi dan regulasi: Mempertahankan lingkungan yang layak pada lab begitu penting untuk mencapai keamanan, ketaatan terhadap regulasi, juga kesuksesan penelitian, karenanya mengurangi penggunaan energi akan menjadi lebih menantang. Namun hal tersebut mungkin dilakukan dengan teknologi otomasi yang menggunakan kontrol dalam mengatur pemanas, pendingin dan kelembapan yang bekerja saat berada di luar batas toleransi efisiensi. Sebagai tambahan, mengintegrasikan sistem lab dengan sistem otomasi gedung akan memberikan efisiensi dan penghematan yang signifikan.
  2. 4. Melakukan pengawasan dan pemeliharaan untuk perbaikan terus menerus: Sistem manajemen energi yang sukses dapat memberikan penghematan energi sebanyak 30%; namun mungkin kehilangan 8% dari penghematan tersebut bila tidak didukung oleh perawatan yang layak. Sistem otomasi gedung memantau dan memberi laporan bila terjadi masalah, namun menganalisa masalah kompleks dan pemborosan energi membutuhkan keahlian tersendiri. Manajer lab dapat saja bergantung pada ahli in-house atau menugaskannya ke pihak ketiga; apapun caranya, sangat penting untuk melakukan perawatan berjalan untuk memaksimalkan hasilnya.

Peningkatan efisiensi di awal dapat menurun tanpa pengawasan dan pemeliharaan yang layak.

Bukti ada pada angka
Kebanyakan sistem exhaust di dalam lab diprogram untuk beroperasi secara konstan pada kecepatan tinggi, menggunakan set point yang diatur konservatif untuk mengakomodasi skenario "terburuk" dalam menghadapi kondisi angin di luar atau pencemaran udara di dalam. Dengan pengawasan layak untuk memastikan kualitas udara yang aman, lebih banyak set point dapat ditetapkan dan sistem dapat direkayasa untuk beroperasi secara fleksibel agar dapat mengurangi konsumsi energi berlebih saat tidak diperlukan.

Sebagai contoh, sebuah lab berhasil mengurangi penggunaan energi dari exhaust hingga 10% dari sebelumnya dengan menggunakan sistem Variable Air Volume (VAV) bertahap dengan kontrol anemometer. Bagaimana hasilnya? Penghematan hingga $81.000 dalam setahun - dan bonus rabat utilitas perusahaan hingga $90.000.

Manajemen energi bukan proses mudah; hal tersebut membutuhkan waktu dan usaha. Namun laboratorium yang mengadopsi pendekatan siklus hidup manajemen energi menyadari bahwa pengembalian didapatkan dalam bentuk penghematan biaya energi, peningkatan efisiensi dan program berkelanjutan jangka panjang - semua tanpa berkompromi dengan keselamatan pegawai.

Pelajari bagaimana cara mengimplementasi pendekatan siklus hidup manajemen energi: Unduh laporan resmi, “Four Steps for Improving Energy Efficiency in Laboratories.”
Pelajari lebih lanjut